Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus mempertegas komitmennya dalam menghadirkan sistem pendukung yang inklusif bagi penyintas penyakit kronis di masyarakat. Melalui skema Hibah Terintegrasi Dana Abdimas (Damas) FK-KMK UGM Tahun 2026, tim pengabdi yang diketuai oleh Dr. dr. Ayu Paramaiswari, Sp.PD-KR menjalankan program strategis bertajuk “Optimalisasi Dukungan Terpadu untuk Orang Dengan Lupus (Odapus) melalui Rumah Singgah Lupus”. Sebagai wujud akuntabilitas pelaksanaan di lapangan, kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) telah sukses dilaksanakan pada Sabtu, 13 Juni 2026, bertempat di Gedung Magister Administrasi Publik UGM.
Proses peninjauan ini dipimpin langsung oleh Dr. Supriyati, S.Sos, M.Kes selaku Tim Monev FK-KMK UGM untuk mengevaluasi capaian serta keberlangsungan dampak program di lapangan, yang pada kesempatan tersebut dikemas melalui Talkshow bertema “Disabilitas Taktampak”. Agenda ini menjadi sangat krusial mengingat karakteristik penyakit lupus yang sering kali tidak memperlihatkan gejala fisik kasatmata, namun memberikan dampak signifikan pada kualitas hidup penyintasnya. Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi, di mana mayoritas atau sekitar 70% dari total sasaran yang hadir merupakan para Odapus dengan berbagai dinamika kondisi kesehatan mereka masing-masing.
Masyarakat dan para penyintas merasa sangat terbantu dengan adanya program abdimas ini karena menyediakan ruang aman untuk saling menguatkan sekaligus mengakses informasi medis yang valid. Kunci keberhasilan program ini terletak pada kesesuaian materi dengan kebutuhan riil sasaran serta kuatnya kolaborasi lintas sektor yang berhasil dibangun oleh tim pengabdi, dengan menggandeng unsur pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), sektor swasta, hingga mitra strategis utama yaitu Sahabat Cempluk yang merupakan komunitas Lupus terbesar di Yogyakarta. Melalui prinsip empowering (pemberdayaan) bersama Sahabat Cempluk, dukungan psikososial dan medis dapat tersalurkan secara berkelanjutan, menempatkan Odapus sebagai subjek yang berdaya dalam mengelola kesehatannya secara mandiri melalui jaringan Rumah Singgah Lupus.
Meskipun berjalan sukses, tim monev mencatat beberapa evaluasi strategis demi pengembangan program ke depan. Salah satu kendala yang diidentifikasi adalah pentingnya pembuatan video dokumentasi proses yang lebih komprehensif, agar alur pendampingan dan praktik baik (best practices) dari Rumah Singgah Lupus ini dapat terekam dengan jelas serta menjadi percontohan bagi wilayah lain. Dari sisi tata kelola operasional, saat monev berlangsung catatan serapan anggaran Hibah Damas untuk program ini telah berjalan efektif dan serapannya mencapai kisaran 50%.
Sebagai rencana tindak lanjut untuk menjamin keberlanjutan dampak yang lebih luas, tim pengabdi diarahkan untuk menyusun policy brief sebagai bahan rekomendasi kebijakan bagi pemangku kepentingan terkait, serta menyusun publikasi populer agar edukasi mengenai lupus dapat menjangkau masyarakat umum secara masif. Langkah taktis ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian sosial terhadap para penyintas disabilitas tak tampak di tingkat regional maupun nasional.
Seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Program ini secara langsung mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan hak sehat dan optimalisasi dukungan medis terpadu bagi penyintas penyakit kronis. Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) dalam mewujudkan inklusivitas serta menghapus kesenjangan sosial bagi penyintas disabilitas tak tampak. Esensi pengabdian ini juga merefleksikan SDG 17 (Partnerships for the Goals) lewat perwujudan sinergi multiheliks yang solid antara akademisi, sektor publik, dan komunitas lokal seperti Sahabat Cempluk demi menjamin keberlanjutan program pendampingan di masa depan.