Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperkokoh kontribusinya dalam meningkatkan kualitas hidup kelompok lanjut usia melalui sistem pendukung kesehatan berbasis komunitas. Komitmen berkelanjutan ini ditunjukkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang berlangsung pada Sabtu, 27 Juni 2026. Bertempat di Kantor Kalurahan Tlogoadi, Mlati, Sleman, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Sutono, S.Kp., MSc., M.Kep selaku Tim Monev FK-KMK UGM guna memantau jalannya program strategis yang diketuai oleh dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D., Sp.N., Subsp.NGD(K).
Program pengabdian masyarakat ini mengusung tema “Program Edukasi dan Perawatan Penderita Demensia: Pendekatan Komprehensif Bagi Caregiver dan Tenaga Kesehatan”. Pada pelaksanaan peninjauan kali ini, agenda berfokus pada kegiatan ketiga dari rangkaian program, yaitu Inagurasi Garda Eling. Garda Eling merupakan nama wadah kader khusus yang dibentuk dan beranggotakan para caregiver (pendamping keluarga) serta tenaga kesehatan di tingkat dasar. Pembentukan kader ini dirancang untuk memberikan edukasi terpadu mengenai tata cara perawatan penderita demensia, deteksi dini penurunan kognitif, hingga manajemen dukungan psikososial di lingkungan keluarga.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, capaian program ini telah berjalan sukses dan sepenuhnya memenuhi target yang ditetapkan untuk pemenuhan fase ketiga. Kelancaran jalannya program didukung kuat oleh status pengabdian yang telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Fondasi kolaborasi yang matang dan harmonis dengan pihak Puskesmas serta Pemerintah Kalurahan Tlogoadi menjadi faktor utama yang sangat mendukung mobilisasi kader serta penyediaan sarana di lapangan. Dari segi aspek finansial institusi, penyerapan tata kelola dana anggaran Hibah Damas hingga masa monev bergulir dilaporkan berjalan sangat sehat dengan realisasi serapan mencapai 70%.
Melalui penerapan prinsip empowering (pemberdayaan) yang melekat pada Garda Eling, para kader kini memiliki kapasitas mandiri untuk menjadi motor penggerak edukasi demensia di lingkungannya. Sebagai rencana tindak lanjut untuk masa mendatang, tim pengabdi merekomendasikan pentingnya pelaksanaan monitoring dan evaluasi berkala khusus untuk memantau keaktifan, performa, serta rutinitas aktivitas riil para kader di tengah masyarakat. Langkah evaluasi performa ini krusial dilakukan demi memastikan kesinambungan dan efektivitas dampak program dalam jangka panjang.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan akses layanan kesehatan mental dan kognitif khusus bagi kelompok lanjut usia. Kedua, sejalan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena memberikan ruang inklusif serta mengurangi beban sosial ekonomi bagi keluarga pendamping (caregiver) lansia dengan demensia. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat ketangguhan kemitraan tahun kedua antara akademisi, puskesmas, dan pamong kalurahan demi keberlanjutan ekosistem ramah lansia.