Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus berkomitmen untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup kelompok lanjut usia melalui pendekatan kearifan lokal berbasis tanaman obat keluarga. Komitmen nyata ini ditunjukkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2026. Berlokasi di Hortus Inn, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh dr. Hanggoro Tri Rinonce, PhD., SpPA(K)., URL (K), Subsp. KA (K) selaku Tim Monev FK-KMK UGM guna mengawal jalannya program strategis yang diketuai oleh pakar geriatri, Dr. dr. Probosuseno, SpPD, K-Ger.
Program pengabdian masyarakat ini mengusung tema besar “Pemanfaatan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) pada Program SANTUN SENJA, untuk Pemberdayaan Lansia di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar”. Fokus pemantauan tim monev kali ini tertuju pada pelaksanaan kegiatan tahap kedua, yaitu melakukan peninjauan, monitoring, dan evaluasi terhadap hasil pelatihan pemanfaatan temulawak sebagai olahan herbal kesehatan mandiri yang telah diberikan kepada para kader lansia pada tahapan sebelumnya.
Pelaksanaan monev ini berjalan dengan sangat lancar dan penuh kehangatan, di mana para peserta tampak antusias mengikuti seluruh jalannya evaluasi. Sebanyak 30 kader kesehatan lansia yang mewakili 10 desa/kelurahan di Kecamatan Tawangmangu berpartisipasi secara aktif. Dari aspek pemberdayaan (empowering), program SANTUN SENJA ini berhasil mengasah kemandirian kader dalam mempraktikkan serta menyebarluaskan pengetahuan tentang khasiat imunomodulator dan pemeliharaan kebugaran tubuh lansia dengan temulawak.
Keberhasilan serta potensi keberlanjutan (sustainability) program ini sangat tinggi karena ditopang oleh jalinan kolaborasi multiheliks yang solid. Program ini didukung penuh oleh Unit Pelayanan Fungsional Pelayanan Kesehatan Tradisional (UPF Yankestrad) Tawangmangu RSUP Dr. Sardjito melalui penyediaan fasilitasi sarana hingga skema pendanaan, UPT Puskesmas Tawangmangu di bawah pimpinan dr. Sulistyo Wibowo, M.P.H, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar. Selain itu, ekosistem Tawangmangu yang telah dilengkapi dengan Klinik Pratama Hortus Medicus dan keberadaan Sekolah Lansia di salah satu desa menjadi fondasi utama yang makin memperkuat keberlanjutan program ini.
Sebagai rencana tindak lanjut taktis pasca-monev, tim pengabdi yang solid ini merencanakan pengembangan (scale up) program untuk tahun berikutnya. Intervensi tidak hanya difokuskan pada pemanfaatan temulawak bagi kader, tetapi akan diperluas jangkauannya dengan mengintegrasikan kurikulum kesehatan herbal secara terstruktur ke dalam aktivitas Sekolah Lansia yang ada di wilayah Tawangmangu.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan hidup sehat dan peningkatan kesejahteraan lansia berbasis pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional terintegrasi. Kedua, sejalan dengan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dalam mewujudkan komunitas pemukiman yang inklusif dan ramah lansia. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat kekuatan kemitraan antara universitas, rumah sakit rujukan, dinas kesehatan daerah, puskesmas, serta organisasi berbasis komunitas.