Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperkokoh peran kemanusiaannya dalam memberikan perhatian pada isu kesehatan mental di ruang-ruang khusus yang membutuhkan pendekatan humanis. Komitmen nyata ini ditunjukkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026. Berlokasi di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Kelas II A Wirogunan, Yogyakarta, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Ema Madyaningrum, S.Kep., NS., M.Kes., PhD selaku Tim Monev FK-KMK UGM guna mengawal jalannya program strategis yang diketuai oleh Prof. dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH., Ph.D.
Program pengabdian masyarakat ini mengusung tema besar “Perluasan Ruang Ekspresi: Program Seni (Art-Based Intervention) untuk Mengurangi Stres dan Agresi di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan”. Fokus pemantauan tim monev kali ini tertuju pada pemaparan hasil Need Assessment berbasis survei dan wawancara mendalam yang telah dilakukan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Diselenggarakan secara luring, pemaparan hasil asesmen ini dihadiri langsung oleh Kepala Lapas II A Wirogunan beserta jajaran staf operasional. Pendekatan berbasis seni ini dirancang sebagai media katarsis emosional yang inklusif untuk meredakan tekanan psikologis, kecemasan, serta potensi luapan agresi warga binaan selama masa pembinaan.
Pelaksanaan pemetaan awal (need assessment) ini berjalan dengan sangat komprehensif dan mendapatkan partisipasi yang luar biasa luas, melibatkan sebanyak 436 WBP serta jajaran petugas lapas. Keberhasilan penyusunan data dasar ini menjadi kunci utama yang memudahkan tim pengabdi dalam berkomunikasi dan menyelaraskan rancangan intervensi dengan kebijakan regulasi di dalam Lapas. Berdasarkan prinsip empowering (pemberdayaan), keterlibatan aktif warga binaan sejak tahap asesmen memastikan bahwa program seni yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan riil psikososial mereka.
Dalam prosesnya, tim pengabdi mengidentifikasi tantangan berupa tingginya variasi latar belakang psikologis dan latar belakang tindak pidana WBP. Kondisi ini menuntut tim untuk menyusun strategi intervensi tersegmentasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok warga binaan. Sebagai rencana tindak lanjut taktis pasca-monev, tim pengabdi akan melibatkan dan memperkuat kapasitas kader kesehatan dari unsur WBP yang telah dibentuk oleh pihak Lapas, khususnya mengenai literasi kesehatan mental. Selain itu, agenda besar intervensi seni selanjutnya akan difokuskan pada kelompok WBP yang bertempat di Gedung G, yang dikenal memiliki karakteristik WBP aktif dalam kegiatan keagamaan, guna mengoptimalkan integrasi antara aspek spiritual dan ekspresi seni.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan akses layanan dan intervensi kesehatan mental bagi kelompok marjinal terisolasi. Kedua, sejalan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena mengikis stigma sosial serta memberikan ruang inklusif dan humanis bagi warga binaan pemasyarakatan. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat ketangguhan sinergi kemitraan antara institusi pendidikan tinggi (FK-KMK UGM) dan institusi hukum pemasyarakatan (Lapas II A Wirogunan).