Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya kelompok rentan dan marginal. Melalui skema Hibah Klaster Dana Abdimas (Damas) FK-KMK UGM Tahun 2026, tim pengabdi yang diketuai oleh Prof. dr. Gunadi, Ph.D, Sp.BA., Subsp.DA(K) menjalankan program bertajuk “Deteksi Dini dan Tatalaksana Awal Kelainan Bawaan, Kesehatan Reproduksi, Kanker, Degeneratif, dan Bantuan Hidup Dasar pada Penyintas Difabel dan Gangguan Jiwa Secara Komprehensif dan Presisi”. Sebagai bagian dari akuntabilitas program, kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) telah dilaksanakan pada Jumat, 29 Mei 2026, bertempat di Wukirsari, Imogiri, Bantul oleh Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG, Subsp Urogin-RE dan Dr. Supriyati, S.Sos, M.Kes selaku Tim Monev FK-KMK UGM.
Pelaksanaan kegiatan abdimas ini berjalan serempak dan dibarengkan dengan rangkaian bakti sosial serta penyembelihan hewan kurban dalam rangka perayaan Iduladha dari FK-KMK UGM. Melalui prinsip empowering dan pendekatan yang inklusif, program ini menghadirkan suasana pelayanan kesehatan terpadu yang sangat masif, hingga dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai sebuah “mini rumah sakit” atau klinik berjalan. Keberhasilan mobilisasi dan penyiapan sasaran ini didukung penuh oleh keaktifan dan proaktivitas para tokoh masyarakat setempat yang terlibat sejak tahap persiapan awal.
Hingga tahap pelaksanaan monev, program telah menorehkan capaian pelayanan nyata yang signifikan bagi masyarakat umum serta penyintas difabel dan gangguan jiwa. Tim pengabdi berhasil melaksanakan tindakan klinis dan pemeriksaan langsung yang mencakup khitanan massal, pemeriksaan urologi, layanan USG kesehatan reproduksi (KesPro) bagi ibu hamil, serta cek kesehatan mata gratis. Tidak hanya pelayanan medis, aspek edukasi kesehatan secara presisi juga diberikan secara serentak oleh berbagai divisi spesialis yang dikemas dalam bahasa Jawa sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh lapisan warga sasaran.
Rangkaian edukasi komprehensif tersebut meliputi sosialisasi kelainan bawaan dan pencegahan Spina Bifida oleh Divisi Bedah Anak dan Divisi Bedah Saraf, serta program UroCare for Special Needs berupa skrining kesehatan saluran kemih khusus penyandang disabilitas dan ODGJ oleh Divisi Urologi. Selain itu, aspek kesehatan umum dan preventif juga diulas melalui penyuluhan kanker payudara, pencegahan kekerasan seksual, Congenital Hearing Loss (tuli kongenital), mata rabun, hingga penanganan kegawatdaruratan gigi dan mulut oleh Divisi Bedah Onkologi, Forensik, THT, Mata, dan Bedah Mulut.
Materi edukasi diperluas oleh Divisi Bedah Digestif, Bedah Plastik, dan BTKV mengenai pemahaman BAB darah, kegawatan bedah plastik, serta pengenalan Penyakit Jantung Bawaan, yang kemudian ditutup dengan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) serta pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) oleh Divisi Anestesi dan Orthopedi. Keberhasilan pelaksanaan program berskala besar ini didukung penuh oleh kolaborasi multiheliks yang solid bersama komunitas Sapadifa (Yayasan/LKS Sahabat Pemerhati Difabel dan ODGJ), Puskesmas setempat, serta departemen di luar klaster bedah seperti Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Sebagai rencana tindak lanjut untuk mengoptimalkan pembagian SDM pelayanan di RSUP Dr. Sardjito, tim pengabdi memberikan masukan untuk merancang lini masa kegiatan di waktu yang lebih memungkinkan partisipasi masyarakat secara optimal pada masa mendatang.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan akses layanan kesehatan komprehensif bagi kelompok marginal, serta sejalan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penyediaan layanan medis yang ramah dan setara bagi penyintas difabel serta gangguan jiwa di tingkat komunitas. Terakhir, seluruh rangkaian program ini mencerminkan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan melalui sinergi multiheliks yang kuat antara akademisi, instansi pelayanan kesehatan, organisasi komunitas non-pemerintah, serta elemen masyarakat demi menjamin keberlangsungan dampak program di masa depan.