Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperkuat komitmennya dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak melalui peningkatan kualitas layanan di fasilitas kesehatan primer. Upaya nyata ini diwujudkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang berlangsung pada Senin, 22 Juni 2026. Berlokasi di Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta, peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Ema Madyaningrum, S.Kep., NS., M.Kes., Ph.D. selaku Tim Monev FK-KMK UGM untuk mengawal keberlanjutan program strategis yang diketuai oleh Prof. Dr. dr. Lucia Kris Dinarti, Sp.PD., Sp.JP(K).
Program pengabdian masyarakat ini mengusung tema “Pemberdayaan Dokter Umum dan Bidan dalam Upaya Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Menggunakan Alat Pulse Oximeter dan Elektrokardiografi Enam Sadapan di Puskesmas Kota Yogyakarta”. Kehadiran program ini dinilai sangat krusial sebagai respons atas pentingnya skrining kardiovaskular yang ramah, mudah diaplikasikan, namun efektif pada pelayanan kesehatan ibu di tingkat primer. Melalui metode inovatif pemanfaatan elektrokardiografi (EKG) enam sadapan dan pulse oximetri, penyakit jantung pada ibu hamil diharapkan dapat teridentifikasi jauh lebih awal, sehingga penanganan medis secara dini mampu memotong risiko komplikasi berat sekaligus menekan angka mortalitas pada ibu dan janin.
Implementasi program ini mengedepankan prinsip empowering (pemberdayaan) dengan menyasar para dokter umum dan bidan puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan. Melalui pelatihan intensif, para tenaga medis ini dibekali kemampuan teknis untuk mendeteksi gangguan sirkulasi darah dan aktivitas kelistrikan jantung secara presisi. Langkah intervensi ini nantinya akan memberikan dampak luas bagi masyarakat, dengan sasaran utama seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) terpadu di pusat kesehatan masyarakat yang tersebar di wilayah Kota Yogyakarta.
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, jalannya tata kelola operasional dan serapan anggaran termin I terpantau berjalan efektif, dengan realisasi serapan dana tercatat berada di bawah nominal Rp15 juta dari total alokasi 70% dari pagu Rp35 juta dana hibah damas abdimas. Anggaran yang terserap telah dialokasikan secara proporsional untuk memfasilitasi kebutuhan pelatihan, peminjaman instrumen medis skrining, serta koordinasi teknis bersama para staf puskesmas setempat demi menjamin kelancaran program.
Sebagai rencana tindak lanjut untuk masa mendatang, tim pengabdi merekomendasikan adanya langkah advokasi strategis kepada Dinas Kesehatan setempat agar mengupayakan pengadaan fasilitas penunjang berupa alat EKG enam sadapan (6-lead) di seluruh fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas. Penyediaan sarana medis yang merata ini dipandang sebagai kunci utama untuk menjamin keberlanjutan program skrining kardiovaskular bagi ibu hamil secara permanen dan berkelanjutan di masa depan.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan akses layanan kesehatan reproduksi yang aman serta penurunan angka kematian maternal. Kedua, sejalan dengan SDG 5 (Gender Equality) karena memberikan hak perlindungan kesehatan yang optimal bagi perempuan dan ibu hamil. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat sinergi kokoh antara klinis akademisi, tim monitoring institusi, dinas terkait, serta para tenaga kesehatan puskesmas demi mewujudkan ketahanan kesehatan masyarakat.