Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperluas jangkauan pengabdian masyarakat yang terintegrasi, khususnya dalam menyasar institusi pendidikan berbasis keagamaan. Langkah nyata ini ditunjukkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang berlangsung pada Rabu, 8 Juli 2026. Bertempat di Pondok Pesantren (Ponpes) Abi Ummi, Boyolali, Jawa Tengah, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Dr. Supriyati, S.Sos, M.Kes selaku Tim Monev FK-KMK UGM guna memantau perkembangan program strategis yang diketuai oleh dr. Rr. Siti Rokhmah Projosasmito, M.Ed.L.P&C.
Program pengabdian masyarakat ini mengusung tema besar “Pemberdayaan Kader Kesehatan Reproduksi Remaja di Pondok Pesantren Abi Ummi”. Fokus pemantauan tim monev kali ini tertuju pada pelaksanaan agenda capacity building (peningkatan kapasitas) yang dikhususkan bagi jajaran guru serta pendamping asrama putri di lingkungan pesantren. Pelatihan ini dirancang secara spesifik untuk meningkatkan kompetensi dan kepekaan para pendidik dalam mendampingi santri selama di sekolah dan asrama, dengan fokus utama pada pemahaman kesehatan mental remaja. Pendekatan edukasi ini dinilai sangat krusial sebagai langkah taktis untuk mengikis dan mengurangi stigma negatif yang sering kali melekat di antara sivitas pesantren terkait isu-isu kesehatan mental.
Jalannya program pengabdian ini merupakan kesinambungan dari rangkaian aktivitas abdimas yang terstruktur, di mana pada tahap awal tim pengabdi telah berhasil menyusun dan mengembangkan modul panduan khusus. Dalam ekosistem pelaksanaannya, program ini berhasil membangun sinergi dan kolaborasi yang kokoh bersama komite sekolah serta mendapat respons yang sangat interaktif dari para peserta yang aktif bertanya dan berdiskusi sepanjang sesi pelatihan luring. Kepadatan jadwal akademik di pesantren sempat menjadi kendala utama dalam mempertemukan para guru secara tatap muka. Namun, tim pengabdi mengatasinya melalui strategi pengembangan sistem terpadu yang memungkinkan materi program melekat langsung ke dalam aktivitas harian sekolah.
Keberhasilan jangka panjang program ini didukung penuh oleh rencana advokasi strategis kepada pihak pengelola dan pengurus yayasan Ponpes Abi Ummi. Langkah ini diambil agar nilai-nilai pemberdayaan kesehatan reproduksi dan mental dapat diadopsi menjadi sebuah sistem regulasi formal di sekolah melalui perwujudan konsep Health Promoting School (Sekolah Promosi Kesehatan). Sebagai rencana tindak lanjut pasca-monev, tim pengabdi diarahkan untuk segera melakukan proses advokasi dan lobbying mendalam kepada jajaran pimpinan pondok. Proses ini menjadi jembatan utama untuk menggemakan serta melembagakan gerakan Health Promoting School secara mandiri, sehingga tercipta lingkungan pesantren yang sehat secara fisik dan psikis bagi seluruh santri.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan akses edukasi kesehatan reproduksi dan layanan dukungan kesehatan mental remaja guna menekan angka depresi usia muda. Kedua, sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) karena ikut meningkatkan kapasitas pedagogis para guru dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan responsif gender. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat ketangguhan kerja sama antara universitas, komite sekolah, dan institusi pesantren dalam mewujudkan kemandirian ketahanan kesehatan komunitas.