Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperkokoh komitmennya dalam menghadirkan pemerataan layanan kesehatan spesialistik dan penguatan deteksi dini di tingkat masyarakat. Langkah nyata ini ditunjukkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2026. Berlokasi di RSUD Sleman, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Sutono, S.Kp., MSc., M.Kep selaku Tim Monev FK-KMK UGM untuk mengawal jalannya program strategis yang diketuai oleh dr. Nurardhilah Vityadewi, Sp.BP-RE (KKF).
Program pengabdian masyarakat multitahun ini mengusung tema besar “Penyuluhan dan Pemberdayaan Kader Kesehatan serta Pelaksanaan Bakti Sosial Operasi Sumbing Bibir dan Langit–langit di Wilayah Kabupaten Sleman”. Fokus pemantauan tim monev tertuju pada pelaksanaan agenda penyuluhan terpadu mengenai kesehatan anak dengan bibir sumbing dan langit-langit. Langkah intervensi ini dirancang untuk membekali lini terdepan posyandu dengan pengetahuan medis yang komprehensif, mulai dari pemenuhan nutrisi pra-operasi, perawatan pasca-operasi, hingga tata cara perujukan klinis yang tepat.
Sebagai implementasi program di tahun kedua, kegiatan ini berhasil memperluas daya jangkau wilayah dampingan dengan menyasar klaster kapanewon yang berbeda dari tahun sebelumnya. Agenda pemberdayaan (empowering) ini diikuti secara proaktif oleh sekitar 40 kader kesehatan yang mewakili 5 Puskesmas kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman. Keberhasilan mobilisasi dan edukasi pada tahap awal ini ditopang oleh sinergi multiheliks yang sangat kuat, berupa dukungan penuh (support) regulasi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman serta fasilitas akomodasi medis dari pihak RSUD Sleman.
Melalui perluasan area penyuluhan ini, program abdimas menargetkan outcome jangka panjang yang ambisius namun terukur, yakni penuntasan dan penanganan menyeluruh terhadap seluruh temuan kasus bibir sumbing di wilayah Kabupaten Sleman. Peran aktif 40 kader puskesmas ini diproyeksikan mampu menyisir kantong-kantong masyarakat yang membutuhkan intervensi bedah rekonstruksi, sehingga tidak ada anak yang terlewat untuk mendapatkan hak senyum sehatnya.
Sebagai rencana tindak lanjut taktis pasca-monev, agenda yang baru saja diselesaikan ini merupakan eksekusi kegiatan tahap pertama. Tim pelaksana saat ini tengah mematangkan persiapan untuk melangkah ke tahap kedua, yaitu pelaksanaan Bakti Sosial Operasi Sumbing Bibir dan Langit-langit massal. Agenda tindakan bedah komprehensif tersebut direncanakan akan diselenggarakan secara luring pada bulan September tahun ini, dengan mengambil tempat di ruang operasi RSUD Sleman.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan akses layanan bedah rekonstruksi gratis serta peningkatan kualitas hidup anak-anak penderita celah bibir. Kedua, sejalan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena memotong kesenjangan akses finansial bagi keluarga kurang mampu untuk mendapatkan tindakan medis spesialistik. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat ketangguhan sinergi kemitraan lintas instansi antara akademisi UGM, jajaran puskesmas, manajemen RSUD Sleman, dan pemerintah daerah.