Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperluas komitmen pengabdiannya dalam membangun ekosistem pesantren yang bersih dan sehat. Langkah nyata ini ditunjukkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Klaster yang berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026. Bertempat di Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi II, Sleman, Yogyakarta, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Sutono, S.Kp., MSc., M.Kep selaku Tim Monev FK-KMK UGM untuk mengawal jalannya program strategis yang diketuai oleh dr. Alfin Harjuno Dwiputro, M.Sc.
Program pengabdian masyarakat ini mengusung tema besar “Penguatan Perilaku Hidup Sehat dalam Mendukung Kesehatan dan Tumbuh Kembang Santri”. Fokus pemantauan tim monev tertuju pada pelaksanaan agenda diseminasi masalah kesehatan anak-anak santri. Langkah intervensi ini dinilai sangat krusial sebagai fondasi awal untuk membekali warga pesantren dengan pemahaman medis yang tepat mengenai pola kebersihan diri, pencegahan penyakit menular, serta pemantauan tumbuh kembang remaja di lingkungan asrama yang padat.
Pelaksanaan agenda perdana ini berjalan dengan sukses dan interaktif berkat penerapan prinsip empowering (pemberdayaan) yang menyasar langsung komponen internal pesantren. Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh 50 peserta yang diproyeksikan menjadi kader santri husada di lingkungannya. Keberhasilan program pada fase pertama dari total tiga tahapan yang direncanakan ini didukung penuh oleh restu dan support dari pihak pengelola pondok pesantren, keaktifan para peserta saat berdiskusi, serta kondisi lingkungan sekitar pesantren yang sangat kondusif menerima materi penyuluhan.
Meskipun berjalan lancar, tim pengabdi mencatat evaluasi teknis terkait proses penyelarasan waktu operasional. Tantangan utama di lapangan adalah mengatur regulasi jadwal agar mampu menjembatani padatnya aktivitas mengaji dan sekolah di pondok dengan ketersediaan waktu luang dari tim pakar klaster lintas disiplin yang terlibat. Sebagai solusinya, optimalisasi komunikasi berbasis sistem yang fleksibel akan terus dimatangkan demi kelancaran tahapan berikutnya.
Sebagai rencana tindak lanjut taktis yang disusun pasca-monev, program ini akan segera melangkah ke tahap kedua. Pada fase berikutnya, tim pengabdi akan memfokuskan kegiatan pada pemeriksaan laboratorium rutin yang menyasar anak-anak pondok secara langsung, yang dikombinasikan dengan diseminasi lanjutan mengenai pemenuhan gizi seimbang serta edukasi pengenalan label obat secara aman (health literacy).
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penanaman pola hidup bersih dan sehat serta deteksi dini kesehatan anak di lingkungan komunal. Kedua, sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) karena ikut menciptakan lingkungan asrama dan institusi pendidikan keagamaan yang sehat, aman, dan suportif bagi proses belajar. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat kekuatan sinergi klaster akademisi UGM dan institusi pesantren dalam mewujudkan ketahanan kesehatan di tingkat akar rumput.