Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus memperkokoh komitmennya dalam memberikan perlindungan kesehatan kerja bagi kelompok pekerja sektor informal dan pelestari warisan budaya lokal. Komitmen nyata ini ditunjukkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang berlangsung pada Rabu, 29 Juli 2026. Berlokasi di Balai RW 4 Basen, Kotagede, Yogyakarta, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Ema Madyaningrum, S.Kep., NS., M.Kes., Ph.D. selaku Tim Monev FK-KMK UGM guna mengawal jalannya program strategis yang diketuai oleh Dr. dr. Umi Solekhah Intansari, M.Kes., Sp.PK(K).
Program pengabdian masyarakat ini mengusung tema besar “Jagadhita: Edukasi dan Deteksi Dini Alergi Okupasional pada Masyarakat Industri Kerajinan Perak Kotagede Berbasis Integrasi Kedokteran Multidisiplin”. Fokus pemantauan tim monev kali ini tertuju pada pelaksanaan rangkaian edukasi melalui penyuluhan interaktif, diskusi kelompok mengenai konsep dasar alergi akibat pajanan bahan kimia/logam di tempat kerja, identifikasi faktor risiko lingkungan kerja perak, serta pelayanan pemeriksaan kesehatan komprehensif. Pemeriksaan tersebut mencakup skrining metabolik sederhana (kolesterol, gula darah, dan tekanan darah) hingga skrining spesifik multidisiplin yang meliputi organ kulit, THT, saraf, dan mata.
Pelaksanaan agenda layanan kesehatan terpadu ini berjalan dengan sangat lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat lokal. Kegiatan ini diikuti secara aktif oleh para pengrajin perak serta didampingi oleh kader kesehatan wilayah Basen, Kotagede. Berdasarkan prinsip empowering (pemberdayaan), para kader kesehatan dilatih untuk mengenali gejala awal penyakit akibat kerja pada industri perak, sehingga mampu melanjutkan fungsi pengawasan kesehatan di lingkungan komunitasnya. Keberhasilan pelaksanaan intervensi klinis dan edukatif ini ditopang kuat oleh kerja sama yang solid antarberbagai departemen spesialis di lingkungan FK-KMK UGM.
Melalui pendekatan klinis yang holistik ini, para pengrajin tidak hanya mendapatkan pemeriksaan fisik secara langsung, tetapi juga memperoleh pemahaman praktis mengenai penggunaan alat pelindung diri (APD) dan manajemen higiene sanitasi kerja. Sebagai rencana tindak lanjut pasca-monev, tim pengabdi akan terus mendampingi para kader kesehatan lokal dalam melakukan pemantauan berkala terhadap status kesehatan para pengrajin perak serta menindaklanjuti rujukan klinis bagi peserta yang terindikasi mengalami alergi okupasional berat.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pencegahan penyakit akibat kerja dan peningkatan kesejahteraan fisik para pekerja informal. Kedua, sejalan dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) karena menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan kondusif bagi keberlanjutan industri kreatif perak tradisional. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat kekuatan sinergi lintas departemen kedokteran multidisiplin UGM bersama pemerintah daerah dan kader kesehatan masyarakat di akar rumput.