Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada terus konsisten mengawal program kesehatan jangka panjang demi melindungi generasi masa depan dari ancaman penyakit bawaan. Komitmen berkelanjutan ini diwujudkan melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah Damas Abdimas dengan skema Terintegrasi yang diselenggarakan pada Sabtu, 27 Juni 2026. Bertempat di Ruang Kuliah Gedung Radiopoetro FK-KMK UGM, agenda peninjauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Sutono, S.Kp., MSc., M.Kep selaku Tim Monev FK-KMK UGM guna memantau perkembangan program strategis yang diketuai oleh Dr. dr. Agung Triono, Sp.A.(K).
Program pengabdian masyarakat multitahun ini mengusung tema besar “Menuju Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Bebas Campak–Rubela dan Congenital Rubela Syndrome (CRS): Akselerasi Eliminasi Berkelanjutan”. Pada pelaksanaan monev kali ini, kegiatan dikemas dalam bentuk Gathering Peduli Anak CRS yang berfokus pada agenda diseminasi informasi medis dan konseling terpadu bagi para orang tua penderita anak dengan CRS. Kehadiran ruang pertemuan ini dinilai sangat penting untuk menjembatani kepakaran klinis dengan kebutuhan psikososial serta edukasi perawatan harian anak-anak berkebutuhan khusus akibat sindrom rubela kongenital.
Kegiatan monitoring membuktikan bahwa program berjalan sangat lancar dan sukses mencapai target yang direncanakan. Kelancaran ini didukung penuh oleh status program yang merupakan kegiatan lanjutan pada tahun ketiga, sehingga fondasi kemitraan, kepercayaan masyarakat, dan alur penanganan telah terbentuk dengan matang. Dari aspek tata kelola dana, serapan anggaran Hibah Damas hingga masa monev berjalan terpantau sangat sehat dan efisien dengan capaian realisasi menyentuh angka 70%.
Melalui pendekatan yang mengedepankan prinsip empowering (pemberdayaan) keluarga, para orang tua dibekali pengetahuan komprehensif mengenai deteksi komplikasi dini serta manajemen perawatan anak di rumah. Sebagai rencana tindak lanjut ke depan, tim pelaksana pengabdian masyarakat masih memiliki rangkaian agenda yang harus dituntaskan secara berkala. Rencana berikutnya difokuskan pada pelaksanaan monitoring langsung ke wilayah sasaran di Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulon Progo guna memastikan dampak pendampingan terdistribusi secara merata di seluruh wilayah DIY.
Seluruh rangkaian pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) global. Pertama, program ini mendukung penuh SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemenuhan akses informasi kesehatan khusus dan akselerasi eliminasi penyakit infeksi menular pada anak. Kedua, sejalan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena memberikan ruang inklusif serta mengurangi kesenjangan hak medis dan sosial bagi anak-anak penderita disabilitas bawaan. Terakhir, kegiatan ini merefleksikan esensi dari SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang dibuktikan lewat komitmen kemitraan jangka panjang selama tiga tahun berturut-turut antara institusi pendidikan, klinisi, dan komunitas keluarga pasien demi keberlanjutan dampak ketahanan kesehatan.